2/12/07

3.V -Talking


Sebuah riset di Amerika menunjukkan bahwa saat berkomunikasi, orang menangkap apa yang kita maksudkan 55% adalah dari gerak – gerik kita saat bicara, 37% adalah dari intonasi suara kita, dan hanya 8% orang memperhatikan kata – kata yang kita ucapkan.


Seringkali kita berpikir sebaliknya, bahwa kata – kata yang kita ucapkan akan mempengaruhi maksud yang ditangkap oleh lawan bicara kita. Kita jadi sering membuang waktu untuk berhati – hati menyusun kata – kata yang akan kita sampaikan pada saat berbicara. Hal ini memang ada benarnya. Tapi yang lebih menentukan sampai tidaknya maksud yang kita sampaikan adalah dari gerak – gerik visual tubuh kita saat bicara.


Ada 3 V yang harus anda perhatikan dari proses komunikasi ini yaitu Visual – bagaimana orang memperhatkan gerak – gerik kita pada saat ber bicara, yang akan mempengaruhi 55% penyampaian maksud dalam komunikasi. Kemudian ada pula Voice – bagaimana kita memberikan intonasi dan nada dalam pengucapan kata – kata tersebut, yang mempengaruhi hingga 37% penyampaian maksud dalam komunikasi. Yang terakhir adalah Vocal – yaitu kata – kata yang kita pilih, yang hanya mempengaruhi 8% dari penyampaian maksud dalam komunikasi.


Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa yang mempengaruhi orang pada saat berkomunikasi adalah gerak – gerik visual yang memberikan ekspresi dan intonasi suara yang menentukan ada tidaknya antusiasme dan emosi dalam cara kita berbicara. Misalnya saja, anda mengucapkan kata – kata “Bagus ya!“, yang pertama anda mengucapkannya dengan tersenyum dan intonasi yang bersemangat, orang akan mengerti bahwa anda sedang memujinya.

Tapi bila kata – kata yang sama anda ucapkan dengan ekspresi wajah datar dan dengan nada sinisme, dia akan mengerti bahwa anda sedang menyindirnya. Demikian pula bila anda mengucapkan sesuatu dengan tidak tulus. Secara tidak sadar tubuh dan ekspresi wajah anda akan menyampaikan ketidaktulusan tersebut pada lawan bicara anda.

Perlu anda sadari bahwa dalam komunikasi, selalu terjadi sinkronisasi antara apa yang anda ucakpan dan apa yang anda rasakan pada lawan bicara anda saat anda mengucapkan kata – kata tersebut. Hal ini secara halus tercermin dan akan dengan cepat ditangkap oleh lawa bicara anda sehingga ia akan dapat memutuskan apa maksud anda sebenarnya.


Perhatikan kembali 3 V yang tadi telah disebutkan – harus ada kesinkronan bila anda dalam 3 elemen ini bila anda menginginkan maksud anda ditangkap dengan baik oleh lawan bicara anda. Maka, anda betul – betul harus memperhatikan ekspresi gerak tubuh, wajah, maupun intonasi anda saat berbicara untuk meyakinkan lawan bicara akan maksud anda yang sebenarnya.


Dalam kehidupan bisnis pasti anda akan sering menghadapi saat dimana anda harus bicara pada orang lain. Pada saat – saat seperti itu, perhatikan dengan cermat 3 V diri anda agar kiranya lawan bicara anda mengerti dengan baik apa yang anda maksudkan.


FEAR

Hambatan terbesar bagi kita untuk meraih sukses adalah ketakutan atau FEAR. Fantacies Emphasizing Appearing Real. Khayalan yang berlebihan hingga tampak nyata. Inilah yang ada dibelakang setiap ketakutan kita, yang menghalangi kita bertindak, dan membuat kita tidak pernah maju.


Mau minta kenaikan gaji, takut dimarahi. Mau mengajak kawan wanita pergi makan malam, takut ditolak. Mau memulai bisnis baru, takut gagal dan merugi. Mau apa – apa, sudah takut terjadi hal buruk. Ketakutan inilah yang menjadi hambatan terbesar kita untuk mencoba memulai hal bari dan maju.

Setiap ketakukan ini terasa nyata dalan imajinasi kita dan membuat kita tidak berani meneruskan langkah yang sudah kita pilih. Padahal, semua itu hanya ada dalam imajinasi kita semdiri. Kitalah yang membuatnya seolah – olah hidup, seolah – olah sudah terjadi. Padahal jika seandainya anda lakukan, seandainya kita terukan apa yang sudah kita mulai, hasil yang kita dapatkan justru jauh sebaliknya!

Kadang kala kita perlu sedikit bertindak tidak peduli. Masa bodoh orang mau bilang apa. Biarkan saja orang mau bicara apa, sepanjang saya yakin saya tidak merugikan orang lain kenapa saya harus takut melakukannya?


Misalnya saja saya ingin mengajak kawan saya untuk berpartner dalan sebuah bisnis. Tapi saya takut ditolak. Bagaimana malunya saya kalau nanti dia tidak mau menjadi rekanan saya dalam bisnis ini? Kemudian saya pikirkan lagi, sebenarnya seberapa besar arti kata ’malu’ itu dibandingkan dengan hasil yang bisa saya raih apabila kawan saya bersedia menjalankan bisnis ini? Apakah kata malu itu sanggup menyaingi keuntungan yang bisa saya peroleh dari bisnis ini? Alangkah bodohnya saya jika tetap berpegang pada kata ’malu’ itu!

Ketakutan ini dalam bentuk apapun merupakan hambatan bagi kesuksesan anda. Bila anda tidak berani melangkah melalui ketakutan anda, bagaimana anda akan bisa meraih sukses? Ketakutan anda telah mengurung anda sehingga anda tidak pernah melakukan tindakan apapun. Ketakutan anda terasa begitu nyata sehingga anda membatalkan semua niatan anda untuk memulai hal baru, memulai langkah anda menuju kesuksesan yang lain. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Boleh saja anda merasa takut, boleh saja anda merasa ragu. Tapi setidaknya hal ini janganlah menjadi penghalang bagi anda untuk memulai langkah baru.


Labels:

2/5/07

BLINK

Malcolm galdwell yang dulu menulis tentang tipping point. Dalam buku ini Malcolm galdwell berbicara bahwa bagaimana dalam keseharian kita, kita sering melakukan ‘blink’ atau the power of thinking without thinking.


Dalam buku ini dijelaskan bagaimana sebetulnya kita sering melakukan ‘blink’ atau menggunakan intuisi kita dalam kehidupan sehari – hari. Sering kali dalam pengambilan keputusan, kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan tindakan kita matang – matang. Maka, kita menggunakan intuisi atau pengetahuan bawah sadar kita yang diperoleh dari pengalaman masa lalu dan informasi – informasi ringan yang ditangkap sambil lalu sehari – hari untuk memtutuskan dengan cepat. Tindakan inilah yang disebut dengan ‘blink’.

Ada sebuah riset menarik tetang konsep ini. Pada riset ini, ada sekelompok mahasiswa yang disuruh melihat video bisu yang menunjukkan beberapa dosen yang tidak pernah mengajar mereka saat para dosen tersebut mengajar di kelas. Kemudian, para mahasiswa ini diminta menunjukkan dosen mana yang baik dan mana yang tidak baik. Para mahasiswa tersebut tidak pernah mengenal maupun diajar oleh dosen yang dimaksud, dan hanya menonton rekaman videonya selama 10 detik. Yang cukup mengejutkan, hasil penilaian dari grup mahasiswa ini ternyata sangat akurat dan sesuai dengan penilaian sekelompok mahasiswa lain yang sudah pernah diajar oleh dosen tersebut selama beberapa waktu.


Hal ini menunjukkan bahwa bila kita sudah memahami suatu hal dengan cukup mendalam, kita akan memiliki apa yang disebut sebagai kemampuan ‘blink’ – suatu kemampuan untuk memutuskan dengan benar tanpa berpikir keras. Kemampuan ini memungkinkan kita untuk mengambil keputusan yang akurat dalam jangka waktu yang sangat singkat, yaitu 5 – 10 detik . Namun umumnya bila kita sudah memiliki pemahaman dan pengalaman dalam bidang yang dimaksud, keputusan yang kita ambil akan tetap cukup akurat.

Contoh lain adalah pada saat kita menerima telepon. Hanya dengan mendengar sepatah kata ‘Halo’ anda mungkin sudah bisa mengenali siapa lawan bicara anda. Padahal, anda belum mendengar kata lain. Hal ini bisa terjadi karena anda sudah begitu hafat dengan suara lawan bicara anda, caranya dalam menjawab telepon, maupun intonasi yang digunakannya saat mengucapkan kata ’Halo’ tadi.


Demikianlah ditunjukkan bahwa otak kita memiliki kemampuan yang sedemikian rupa dalam mengolah informasi yang ada dengan sangat cepat sehingga muncul dalam bentuk intuisi. Dalam kehidupan bisnis anda, akan sangat baik dan berguna bila sekiranya anda dapat mempertajam dan melatih kemampuan intuisi ini. Dengan demikian, anda akan mampu mengambil keputusan yang benar dan menguntungkan sekalipun anda ada dalam posisi yang terdesak.

Labels: